Syahdan pada suatu saat, Sayidina Ali ra, ditanyalah oleh para
sahabat dengan sebuah pertanyaan, “Makhluk apakah yang paling kuat di
dunia ini?” Beliau seketika pula menjawab, makhluk Allah yang terkuat di
dunia ini adalah gunung yang kokoh tegak berdiri. Namun demikian,
gunung masih dapat dihancurkan oleh besi, karenanya besilah yang
terkuat.
Tapi besi itu sendiri masih bisa dilelehkan oleh api, maka apilah
yang terkuat. Sedangkan api masih bisa dipadamkan oleh air, oleh karena
itu airlah yang terkuat. Namun, air masih bisa dimainkan oleh angin
(saat masih berada di udara). Sementara angin masih bisa dikalahkan
(digunakan) oleh manusia, maka manusialah yang terkuat.
Hanya saja manusia masih bisa dikalahkan oleh mabuk, oleh karena itu
mabuklah yang terkuat. Tapi mabuk masih bisa dikalahkan oleh tidur, maka
dari itu tidurlah yang terkuat. Namun orang yang jiwanya sedang cemas,
was-was, resah dan gelisah, sudah dapat dipastikan akan sulit bisa
tidur.
Hingga uraian jawaban yang terakhir ini, berhentilah Sayidina Ali ra
menjawab pertanyaan para sahabat. Di mana dengan uraiannya yang sangat
unik tersebut, beliau bermaksud menyatakan bahwa, yang paling sulit
dihadapi manusia dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini adalah
dalam menghadapi dan mengatasi kegelisahan jiwa.
Atas dasar ini, wajar bila suatu saat seseorang juga mengalami
kesulitan dalam mengatasi kegelisahan yang sedang menyelimuti dirinya.
Demikian pula dengan jiwa yang kosong, sehingga seringkali mengantarkan
seseorang berkhayal membayangkan yang bukan-bukan. Biasanya, dari segi
usia yang tergolong remaja, kadang apa yang sedang dialami biasa
dianggap sebuah kewajaran. Karena pada usia remaja, biasanya seseorang
sedang disibukkan mencari jati dirinya. Kegelisahan pada usia remaja,
acapkali lahir dari ketidakpastian tujuan hidup dan masa depan yang
masih terselimuti kabut ketidakjelasan. Bermula dari ketidakpastian dan
ketidakjelasan inilah timbul kemudian kecenderungan yang juga tidak
jelas.
Tepatlah kiranya, upaya seseorang dalam mengatasi permasalahan yang
sedang dihadapi dengan berzikir dan membaca Al Qur’an. Karena
sebagaimana dikatakan Imam Al Ghazali, masing-masing manusia hanya
memiliki satu hati. Tidak ada seorang pun yang memiliki dua hati atau
lebih. Hati yang hanya satu itu menurut beliau, ibarat gelas kosong, di
mana dalam keadaan kosong, gelas dapat diisi oleh apa saja. Bisa diisi
air susu, kopi, arak atau bahkan racun sekalipun. Namun, bila gelas
sudah diisi air susu misalnya, maka sudah tidak dimungkinkan lagi masuk
cairan lainnya ke dalam gelas karena pasti akan tumpah.
Begitu pula halnya dengan hati, bila dia kosong, maka ia dapat diisi
oleh apa saja, termasuk bisikan iblis sekalipun. Namun, bila hati sudah
penuh dengan zikir kepada Allah SWT, tidak mungkin lagi akan masuk
unsur-unsur lain, kalau pun dipaksakan, ia akan tumpah dengan
sendirinya. Karena hati manusia hanya satu, maka semua yang tidak
diridhai-Nya sudah tidak mungkin lagi bisa masuk bahkan dibencinya.
Demikian juga sebaliknya, bila hati seseorang sudah mencintai
kebenaran, dengan sendirinya ia akan menolak segala bentuk kebatilan.
Hati yang penuh dengan zikir seperti inilah kiranya yang dijanjikan
Allah akan menjadi tentram adanya (Ar Ra’d, 13 : 28; Al Anfaal, 8 : 2).
Namun, bila saat ini yang dirasakan seseorang dengan membaca Al
Qur’an dan berzikir ternyata belum juga mampu mengatasi masalah yang
sedang dialaminya, hal ini mungkin saja disebabkan karena hakikatnya
yang bersangkutan belum membaca Al Qur’an dan berzikir dalam pengertian
sesungguhnya. Atau dengan kata lain, membaca Al Qur’an dan berzikirnya,
baru sebatas pada lidah dan hati, belum disertai dengan berzikirnya akal
dan indera lainnya. Al Qur’an barulah benar-brenar telah dibaca
manakala seseorang telah membacanya dengan lidah, meyakini kebenaran
firman-Nya dengan hati, memahaminya dengan akal, serta melaksanakan yang
terkandung di dalamnya dengan amal perbuatan.
Karenanya, layaklah bagi seseorang yang sedang dilanda keresahan dan
kegelisahan, di samping kegiatan berzikir dan membaca Al Qur’an dengan
lisan, upayakan terus agar dapat memahami, menghayati makna yang
terkandung di dalamnya setiap zikir dan setiap ayat Al Qur’an yang
dibaca. Kemudian, setahap demi setahap mulailah mengamalkannya.
Yakinilah akan janji-janji Allah yang akan memberikan jalan keluar
kepada setiap hamba-Nya yang bertakwa (Ath Thalaq, 65 : 2-3; Al An’aam, 6
: 48). Semoga, Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
pada kita sekalian. Amin !
Wallahu a’lam bish-shawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar