Sabtu, 23 Februari 2013

Resah...Gelisahh,Adakah Obatnya???

Syahdan pada suatu saat, Sayidina Ali ra, ditanyalah oleh para sahabat dengan sebuah pertanyaan, “Makhluk apakah yang paling kuat di dunia ini?” Beliau seketika pula menjawab, makhluk Allah yang terkuat di dunia ini adalah gunung yang kokoh tegak berdiri. Namun demikian, gunung masih dapat dihancurkan oleh besi, karenanya besilah yang terkuat.
Tapi besi itu sendiri masih bisa dilelehkan oleh api, maka apilah yang terkuat. Sedangkan api masih bisa dipadamkan oleh air, oleh karena itu airlah yang terkuat. Namun, air masih bisa dimainkan oleh angin (saat masih berada di udara). Sementara angin masih bisa dikalahkan (digunakan) oleh manusia, maka manusialah yang terkuat.

Hanya saja manusia masih bisa dikalahkan oleh mabuk, oleh karena itu mabuklah yang terkuat. Tapi mabuk masih bisa dikalahkan oleh tidur, maka dari itu tidurlah yang terkuat. Namun orang yang jiwanya sedang cemas, was-was, resah dan gelisah, sudah dapat dipastikan akan sulit bisa tidur.
Hingga uraian jawaban yang terakhir ini, berhentilah Sayidina Ali ra menjawab pertanyaan para sahabat. Di mana dengan uraiannya yang sangat unik tersebut, beliau bermaksud menyatakan bahwa, yang paling sulit dihadapi manusia dalam menjalani proses kehidupan di dunia ini adalah dalam menghadapi dan mengatasi kegelisahan jiwa.
Atas dasar ini, wajar bila suatu saat seseorang juga mengalami kesulitan dalam mengatasi kegelisahan yang sedang menyelimuti dirinya. Demikian pula dengan jiwa yang kosong, sehingga seringkali mengantarkan seseorang berkhayal membayangkan yang bukan-bukan. Biasanya, dari segi usia yang tergolong remaja, kadang apa yang sedang dialami biasa dianggap sebuah kewajaran. Karena pada usia remaja, biasanya seseorang sedang disibukkan mencari jati dirinya. Kegelisahan pada usia remaja, acapkali lahir dari ketidakpastian tujuan hidup dan masa depan yang masih terselimuti kabut ketidakjelasan. Bermula dari ketidakpastian dan ketidakjelasan inilah timbul kemudian kecenderungan yang juga tidak jelas.
Tepatlah kiranya, upaya seseorang dalam mengatasi permasalahan yang sedang dihadapi dengan berzikir dan membaca Al Qur’an. Karena sebagaimana dikatakan Imam Al Ghazali, masing-masing manusia hanya memiliki satu hati. Tidak ada seorang pun yang memiliki dua hati atau lebih. Hati yang hanya satu itu menurut beliau, ibarat gelas kosong, di mana dalam keadaan kosong, gelas dapat diisi oleh apa saja. Bisa diisi air susu, kopi, arak atau bahkan racun sekalipun. Namun, bila gelas sudah diisi air susu misalnya, maka sudah tidak dimungkinkan lagi masuk cairan lainnya ke dalam gelas karena pasti akan tumpah.
Begitu pula halnya dengan hati, bila dia kosong, maka ia dapat diisi oleh apa saja, termasuk bisikan iblis sekalipun. Namun, bila hati sudah penuh dengan zikir kepada Allah SWT, tidak mungkin lagi akan masuk unsur-unsur lain, kalau pun dipaksakan, ia akan tumpah dengan sendirinya. Karena hati manusia hanya satu, maka semua yang tidak diridhai-Nya sudah tidak mungkin lagi bisa masuk bahkan dibencinya.
Demikian juga sebaliknya, bila hati seseorang sudah mencintai kebenaran, dengan sendirinya ia akan menolak segala bentuk kebatilan. Hati yang penuh dengan zikir seperti inilah kiranya yang dijanjikan Allah akan menjadi tentram adanya (Ar Ra’d, 13 : 28; Al Anfaal, 8 : 2).
Namun, bila saat ini yang dirasakan seseorang dengan membaca Al Qur’an dan berzikir ternyata belum juga mampu mengatasi masalah yang sedang dialaminya, hal ini mungkin saja disebabkan karena hakikatnya yang bersangkutan belum membaca Al Qur’an dan berzikir dalam pengertian sesungguhnya. Atau dengan kata lain, membaca Al Qur’an dan berzikirnya, baru sebatas pada lidah dan hati, belum disertai dengan berzikirnya akal dan indera lainnya. Al Qur’an barulah benar-brenar telah dibaca manakala seseorang telah membacanya dengan lidah, meyakini kebenaran firman-Nya dengan hati, memahaminya dengan akal, serta melaksanakan yang terkandung di dalamnya dengan amal perbuatan.
Karenanya, layaklah bagi seseorang yang sedang dilanda keresahan dan kegelisahan, di samping kegiatan berzikir dan membaca Al Qur’an dengan lisan, upayakan terus agar dapat memahami, menghayati makna yang terkandung di dalamnya setiap zikir dan setiap ayat Al Qur’an yang dibaca. Kemudian, setahap demi setahap mulailah mengamalkannya.
Yakinilah akan janji-janji Allah yang akan memberikan jalan keluar kepada setiap hamba-Nya yang bertakwa (Ath Thalaq, 65 : 2-3; Al An’aam, 6 : 48). Semoga, Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya pada kita sekalian. Amin !
Wallahu a’lam bish-shawab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar